Rabu, 01 Juni 2016

kebudayaan, makanan, ciri khas. JAWA TENGAH



Budaya Jawa 
adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu di Jakarta dan Sumatra. Bahkan budaya Jawa termasuk salah satu budaya di Indonesia yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa yang diminati di luar negeri adalah wayang, keris, batik, dan gamelan. 
Di Malaysia dan Filipina dikenal istilah keris karena pengaruh Majapahit LSM Kampung Halaman dari Yogyakarta yang menggunakan wayang remaja adalah LSM Asia pertama yang menerima penghargaan seni dari Amerika Serikat tahun 2011. Gamelan Jawa menjadi pelajaran wajib di AS, Singapura dan Selandia Baru. Gamelan Jawa rutin digelar di AS dan Eropa atas permintaan warga AS dan Eropa. Sastra Jawa Negarakretamaga menjadi satu satunya karya sastra Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Menurut Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N. Miksic jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan, candi, patung dan seni. Bahkan banyak negara di dunia terutama Amerika dan Eropa menyebut Jawa identik Budaya Jawa termasuk unik karena membagi tingkat bahasa jawa menjadi beberapa tingkat yaitu Ngoko, Madya Krama. Ada yang berpendapat budaya Jawa identik feodal dan sinkretik. Pendapat itu kurang tepat karena budaya feodal ada di semua negara termasuk Eropa. Budaya Jawa menghargai semua agama dan pluralitas sehingga dinilai sinkretik oleh budaya tertentu yang hanya mengakui satu agama tertentu dan sektarian.
Agama
Budaya Jawa juga menghasilkan agama sendiri yaitu Kejawen, berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa. Tetapi mayoritas orang Jawa sekarang menganut agama Islam dan sebagian kecil orang Jawa menganut agama Kristen atau Khatolik. Dahulu orang Jawa menganut agama Hindu, Budha, dan Kejawen. Bahkan orang Jawa ikut menyebarkan agama Hindu dan Buddha dengan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha Jawa yang berperan. Orang Jawa juga ikut menyebarkan agama Islam dan Kristen atau Katolik di Indonesia. Orang Jawa termasuk unik karena menjadi satu satunya suku di Indonesia yang berperan penting dalam menyebarkan 5 agama besar. Seorang peneliti AS Clifford Geertz bahkan pernah meneliti orang Jawa dan membagi orang Jawa menjadi 3 golongan besar yaitu : Abangan, Priyayi, Santri
Bahasa
Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa jawa di jawa tengah, yogyakarta & jawa timur. Selain itu, Bahasa Jawa juga digunakan oleh penduduk yang tinggal beberapa daerah lain seperti di banten, terutama kota serang, kabupaten serang, kota cilegon dan kabupaten tangerang, khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara karawang,  subang,  indramayu, kota cirebon. Kawasan-kawasan luar Jawa yang terdapat penutur bahasa Jawa yaitu : lampung (61,9%), jakarta (35%), sumatra utara (32,6%), kaltim (29,5%), jambi (27,6%), sumatra selatan (27%), riau 25%, aceh (15,87%) yang dikenal sebagai aneuk jawoe. Penutur bahasa Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di suriname, yang mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di kaledonia baru bahkan sampai kawasan aruba dan curaco serta belanda. Sebagian kecil bahkan menyebar ke wilayah guyana prancis dan venezeula. Pengiriman tenaga kerja ke korea, hong kong, serta beberapa negara timur tengah, juga memperluas wilayah sebar pengguna bahasa ini meskipun belum bisa dipastikan kelestariannya.

kesenian
eni Tradisional Jawa adalah karya seni yang diciptakan dan berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Beberapa contoh dari seni tradisional jawa antara lain tari gambyong, Kesenian tradisional dari Jawa ada berbagai macam, tetapi secara umum dalam satu akar budaya kesenian Jawa ada 3 kelompok besar yaitu Banyumasan (ebeg), Jawa Tengah dan Jawa Timur (ludruk dan reog).



Nasi gandul



 merupakan masakan khas daerah Pati (daerah pesisir Jawa Tengah, merupakan jalan pantai utara Jawa). Akan tetapi, konon menurut cerita, daerah di Pati yang memopulerkan nasi gandul ini adalah desa Gajahmati (arah selatan teminal bus Pati), itulah sebabnya sering ditemui kata-kata Nasi Gandul Gajah Mati. Walaupun pada akhirnya banyak ditemui penjual nasi gandul yang tidak berasal dari desa Gajahmati tetap menuliskan kata desa Gajahmati pada spanduk tempat makan mereka. Jika ditelusuri asal-usul pemberian nama nasi gandul, banyak versi yang mengemukakan tentang hal tersebut.
Versi pertama mengatakan bahwa nama nasi gandul adalah nama pemberian dari pembeli. Dulu, di daerah Pati, penjual nasi gandul menjajakan nasinya dengan menggunakan pikulan yang berisi kuali (tempat kuah nasi gandul) di satu sisi, dan bakul nasi serta peralatan makan nasi gandul di sisi lain. Kemudian, pikulan tersebut digotong dan dijajakan sehingga pikulan tersebut naik-turun seirama dengan langkah penjualnya (kedua sisi bambu ini bergantungan bakul nasi dan kuali kuah secara menggantung (gandul). Oleh sebab itu, masyarakat kemudian menamainya nasi gandul.
Versi kedua, nama nasi gandul terinspirasi dari cara penyajian nasi gandul yang unik. Cara penyajiannya: piring yang telah dilapisi oleh daun pisang, kemudian diisi oleh nasi, baru setelah itu diberi kuah. Karena penyajian yang serupa itu, oleh para pembeli menyebut bahwa nasi dan kuah itu mengambang; menggantung (tidak menyentuh piring).
Versi ketiga mungkin dahulu hanya sebagai bahan banyolan masyarakat Pati. Dikisahkan bahwa penjual (seorang pria) yang menjajakan nasi tersebut dengan cara berkeliling, memakai sarung. Ketika penjual tersebut duduk dan melayani pembeli, sarung penjual tersebut tersingkap dan kelihatan alat kelaminnya yang ‘gondal-gandul’. Kemudian, sejak saat itu orang menyebut nasi itu adalah nasi gandul. Dari versi-versi tersebut, versi pertama dan kedualah yang bisa diterima oleh masyarakat luas.

Soto ayam kemiri



 berasal dari desa Kemiri, kemiri merupakan salah satu desa di Kabupaten Pati yang terletak di sebelah utara terminal pati. sehingga nama soto di namai sesuai dari daerah asalnya, soto kemiri ini mempunyai perbedaan dalam hal pembuatannya, soto kemiri ini dibuat dengan cara mengopyok semua bahan yang akan disajikan. Dengan cara pembuatan seperti ini, hal tersebut yang menjadikan kekhasnya, Soto kemiri ini umumnya disajikan dengan ayam goreng yang garing.

Petis kambing runting 



merupakan kombinasi masakan daging kambing. jika dilihat Sekilas mirip  seperti gule. karena kuahnya hijau bersantan. Namun yang menjadikan beda ialah kuahnya bercampur tepung beras dan rebusan daging yang sudah lebur. sehingga makanan khas yang satu ini banyak butiran kenyal hangat yang lumer ketika kuah sudah masuk di mulut. Rasa kuanya itu gurih.
Gethuk Runting


Makanan khas gethuk runting ini menggunakan bahan dasar singkong, Singkong yang mulanya dikukus hingga matang ini, kemudian ditumbuk hingga halus dan ditambahi dengan sedikit garam untuk menambahkan rasa gurih pada getuk ini. Getuk ini umumnya disajikan dengan tambahan taburan kelapa parut dan serundeng atau di celup gula merah. Kemudian dibungkus dengan daun pisang.

Sego Tewel


Sego tewel sendiri adalah nasi dan sayur nangka muda (tewel, gori, cecek -Bahasa Jawa). Kemudian disajikan dengan piring yang dilapisi daun jati. Sehingga aroma khas daun jati yang terhirup bersama aroma tewel menjadikan khasnya mkanan ini. Dengan rasa sedikit pedas juga memberi sensasi tersendiri. Sego tewel ini dihidangkan hanya dengan lauk tempe goreng dan bakwan. Sangat sederhana. Untuk tiga porsi nasi tewel.